“Kelekak tidak akan terjaga jika tidak memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.”
Dr. Rozza Tri Kwatrina (BRIN)
“Kelekak bukan kebun biasa. Ia adalah identitas Melayu Bangka.”
Firdaus Marbun, S.Ant., M.Si (BRIN – Arkeologi)
Menyebutkan bahwa pada 1935 terdapat 135 kelekak di Pulau Bangka. Kini, hanya sebagian kecil yang tersisa.
Yuyun Triwidayati, S.Sos., M.PA (Bappeda Babel)
“Hilangnya kelekak berarti hilangnya kearifan masyarakat.”
Nurul Ichsan, S.T., M.Si (Bappeda Babel)
Mengingatkan bahwa arsip Belanda mencatat kelekak sebagai sistem tanam selaras yang menopang ekonomi keluarga Melayu Bangka.
Pada pukul 15.00 WIB, seluruh peserta siswa, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat bersama-sama menanam bibit aren. Sejumlah anak menulis tekad mereka:
“Aku mau jaga hutan kecil dekat sungai.”
“Aku mau tanam aren di rumah.”
“Aku mau jadi penjaga kelekak.”
Di tengah ketidakpastian tata ruang dan tekanan industri ekstraktif, janji-janji kecil itu menjadi secercah harapan baru.
Kelekak bukan sekadar tempat tumbuh durian, manggis, cempedak, atau aren. Ia adalah benteng karbon alami, penahan erosi, penyaring air, dan ensiklopedia budaya masyarakat Bangka Belitung. Hilangnya kelekak berarti hilangnya pengetahuan, identitas, serta keberlanjutan ekologis pulau.
Program FOLU Goes To School membuktikan bahwa pelestarian kelekak bukan hanya soal regulasi dan kebijakan. Ia soal menyambungkan kembali hubungan anak muda dengan tanah, akar, dan sejarah mereka sendiri.
Dan mungkin, dari sekolah kecil di Desa Zed inilah masa depan kelekak mulai ditulis ulang, bukan oleh tangan pemerintah, tetapi oleh tangan-tangan kecil yang hari itu menggenggam bibit aren.
















