“Kalau putus, bagaimana anak-anak sekolah? Bagaimana ambulans lewat? Kami minta pemerintah jangan menunggu sampai ada korban,” tegas warga tersebut.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat, setidaknya dengan pemasangan bronjong atau perkuatan sementara untuk mencegah badan jalan semakin ambles.
“Kami ingin pemerintah turun langsung ke lapangan. Jangan tunggu putus dulu baru heboh,” ungkap warga.
Sementara itu, Kepala Desa Sangku, Andi Harta, membenarkan bahwa pihak desa telah melaporkan kondisi jalan tersebut kepada Dinas PU Bangka Barat melalui pesan WhatsApp disertai foto dan titik lokasi. Namun laporan itu hanya dijawab dengan satu kata: dipelajari.
“Kami sudah menyampaikan laporan beserta dokumentasinya. Tapi sampai sekarang tidak ada petugas dari dinas yang turun mengecek kondisi jalan tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan dipicu oleh erosi di bawah badan jalan akibat gorong-gorong yang diduga tidak mampu lagi mengalirkan air dengan baik. Aliran air terus menggerus tanah hingga membentuk rongga besar di bawah aspal.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak dinas terkait masih dalam upaya konfirmasi, terutama terkait rencana perbaikan maupun tanggapan atas laporan warga. (Belva)














