SEKILASINDONEWS.COM – Banjir setinggi hampir setengah meter kembali menutup lorong-lorong di pesisir Kampung Tanjung, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Minggu (7/12/2025).
Air berwarna cokelat pekat itu bukan sekadar limpasan hujan atau pasang laut, tetapi sebuah alarm keras tentang degradasi ekologis pesisir yang semakin memburuk di Bangka Barat.
Bagi warga, genangan ini seperti siklus yang terus berulang. Namun bagi lingkungan, ini adalah sinyal bahwa ruang hidup pesisir sedang runtuh, drainase tak lagi bekerja, vegetasi pesisir hilang, dan tekanan pembangunan semakin mengunci jalur air.
Hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pesisir Mentok, termasuk Kampung Tanjung, mengalami penurunan fungsi ekologis yang parah.
Tanah pesisir mengalami penurunan (land subsidence) akibat beban bangunan yang melampaui daya dukung lingkungan.
Vegetasi penahan air seperti mangrove hampir hilang, digantikan pemukiman padat dan bangunan komersial.
Tidak ada ruang hijau atau area serapan air, membuat aliran permukaan terperangkap.
Drainase tidak terhubung ke saluran pembuangan sehat, menyebabkan air berhenti di titik-titik buntu.
Ketika ruang alami hilang, air mengambil kembali ruang yang pernah menjadi miliknya.
“Dulu air cepat surut. Sekarang mengendap seperti terjebak,” ujar Ketua RT setempat, Ibu Beni.
Disisi lain, tim juga menemukan sejumlah fakta mencengangkan di lapangan. Sedimen lumpur terlihat menutup dasar drainase hingga 30-40 cm, membuat saluran kehilangan kapasitas alir.
Gorong-gorong terputus atau tertutup bangunan baru, indikasi lemahnya pengawasan ruang.
Saluran pesisir tidak memiliki pintu air pasang-surut, membuat air laut masuk tanpa kendali.
Banyak jalur air berakhir pada titik buntu tanpa outlet ke laut.
Semua ini membentuk perangkap air raksasa yang hanya menunggu hujan untuk meluap.
“Ini seperti air yang terjebak di kubangan beton,” kata seorang warga.
Dua Dekade Hilangnya Nafas Ekologis
Dalam dua dekade terakhir, pesisir Mentok mengalami pergeseran fungsi . Area yang dulu menjadi zona serap air kini berubah menjadi pemukiman padat, lorong sempit berlapis beton serta deretan bangunan usaha kecil.
Tanpa analisis dampak lingkungan yang memadai, ruang serapan, jalur air, dan vegetasi pesisir hilang satu per satu sehingga membuat Kampung Tanjung kehilangan nafas ekologisnya.
Berdasarkan dokumentasi warga yang kami terima menunjukkan dampak yang begitu nyata.
Anak-anak terlihat berdiri di ambang pintu rumah yang setengah tenggelam. Selain itu terlihat juga dua perempuan dewasa berdiri dalam air sebatas lutut, menatap rumah yang tak lagi aman. Disisi lain, seorang pria tua juga terlihat sedang memegang ember kosong di depan drainase yang tak mengalir.
















