Dokumentasi ini bukan sekadar potret banjir, tapi ini menunjukkan bahwa hilangnya ruang hidup manusia dan ekosistem secara bersamaan.
Banjir Berulang, Resiko Kesehatan Mengintai
Selain kerusakan fisik, banjir berulang di Kampung Tanjung berpotensi memicu resiko kesehatan bagi warga setempat.
Genangan yang bertahan berhari-hari membuka jalan bagi banyak ancaman, seperti peningkatan faktor penyakit (sarang nyamuk dan lalat), kontaminasi air bersih, pencemaran limbah rumah tangga, penurunan sanitasi, risiko penyakit kulit, diare, infeksi hingga penurunan kualitas air tanah.
Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai “zona air mati”, area genangan yang tak hanya menahan air tetapi juga menahan penyakit.
Dampak Perubahan Iklim Tak Terelakkan
Selain problem tata ruang, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim juga dapat memperburuk kondisi Kampung Tanjung.
“Setiap tahun air makin tinggi. Ini bukan lagi soal hujan saja,” kata Ibu Beni.
Kampung Tanjung menjadi contoh nyata bagaimana pemukiman pesisir adalah titik paling rentan ketika ruang penyangga ekologis hilang.
Dalam kajian ekologis, upaya teknis seperti pengerukan tidak lagi memadai. Diperlukan langkah pemulihan ruang yang berbasis ekologi:
1. Restorasi vegetasi pesisir seperti mangrove mikro.
2. Normalisasi drainase berbasis ekologi, bukan betonisasi penuh.
3. Penataan ulang bangunan yang menutup jalur air.
4. Pemasangan pintu air pasang-surut untuk kontrol intrusi laut.
5. Analisis daya dukung pemukiman pesisir untuk perencanaan jangka panjang.
6. Edukasi dan kolaborasi warga, dengan pendekatan konservasi.
Karena itu, untuk pemeliharaan drainase harus dipandu dengan pendekatan ekologis, bukan sekadar gotong royong tradisional.
Pesisir Mentok di Titik Kritis
Tiang-tiang ekologi pesisir mulai rapuh. Kampung Tanjung kini berdiri di ambang krisis ruang yang semakin nyata. Setiap banjir adalah pengingat bahwa pesisir Mentok sedang kehilangan kemampuan alaminya untuk bertahan.
Air yang naik bukan hanya karena hujan atau pasang. Air naik karena ruang penyangga ekologis hilang, akibatnya jalur atau saluran air mati, dan tata ruang dibiarkan berjalan tanpa arah.
Jika pemulihan ekologis tidak dimulai hari ini, Kampung Tanjung suatu hari mungkin tenggelam. Bukan oleh laut, melainkan oleh kelalaian manusia terhadap ruang hidupnya sendiri. (Belva)
















