Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Selatan

Konflik Lahan Desa Pergam Diduga Sarat Kepentingan, Banyak Pembeli tapi Hanya Satu yang Diserang

×

Konflik Lahan Desa Pergam Diduga Sarat Kepentingan, Banyak Pembeli tapi Hanya Satu yang Diserang

Sebarkan artikel ini
Konflik Lahan Desa Pergam Diduga Sarat Kepentingan, Banyak Pembeli tapi Hanya Satu yang Diserang
Kondisi kawasan di area embung penampungan air di persawahan Desa Pergam. (Foto: Ist)

SEKILASINDONEWS.COM – Konflik lahan di Desa Pergam, Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, kembali mencuat dengan aroma kepentingan yang kian semakin kuat.

Di tengah banyaknya pihak yang disebut membeli dan membuka lahan untuk perkebunan, termasuk di kawasan rawa yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hanya satu nama yang terus diserang dan dijadikan sasaran kambing hitam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya terdapat sekitar 10 pengusaha yang disebut-sebut telah membeli dan membuka lahan di kawasan Desa Pergam, Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan.

Di tengah banyaknya pihak yang terlibat, kelompok masyarakat yang dikenal vokal, Sandi Cs, justru terkesan hanya menggiring opini publik kepada satu nama.

Narasi yang mereka bangun seolah menggambarkan bahwa seluruh kawasan hutan di Desa Pergam telah dibeli dan dikuasai oleh Iskandar seorang.

Padahal, fakta di lapangan menunjukkan ada banyak pihak lain yang juga diduga melakukan aktivitas serupa, baik berupa pembelian lahan maupun pembukaan area untuk perkebunan.

Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya pola penggiringan opini yang tidak berimbang, bahkan sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Salah satu warga yang mengetahui aktivitas jual beli lahan di kawasan itu mengungkapkan bahwa pembeli lahan bukan hanya satu pihak.

“Banyak yang beli, lebih dari satu,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya saat dihubungi melalui sambungan telepon via whatssap, pada Jumat (7/11/2025) siang kemarin.

Saat ditanya lebih jauh mengenai siapa saja para pembeli tersebut, warga itu memilih untuk tidak menjelaskan secara detail.

“Kalau siapa-siapa yang beli, saya tidak tahu. Tapi yang jelas banyak,” tambahnya.

Ketika disinggung soal kawasan rawa Aik Kelaban, warga itu sempat mengaku pernah diajak bergabung untuk mengurus administrasi pembukaan lahan, namun rencana tersebut gagal karena tidak mendapat izin dari pemerintah desa.

“Dulu saya pernah diajak ngurus administrasinya, tapi gagal, Bang, karena pihak desa tidak beri izin, jadi kami bubar. Tapi saya tidak tahu kelanjutannya. Mungkin karena itu ada yang mengira saya terlibat dalam penggarapan di kawasan itu,” ujarnya.

Meski sudah banyak pihak diketahui yang membeli dan membuka lahan untuk perkebunan sawit, kelompok Sandi Cs disebut tetap fokus menyerang satu nama. Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya kecemburuan sosial dan ketimpangan sikap dalam konflik yang sudah berlangsung lama tersebut.

Salah satu warga lainnya bahkan mengirimkan rekaman video berdurasi 54 detik kepada wartawan. Dalam video tersebut tampak kawasan rawa-rawa Rimbak Ninek yang sudah dibuka dan tampak dibuat jalan dengan timbunan tanah.

“Neh, la jadi darat bae lah lelap ni. Ini kapan ya buat jalan, kayaknya kalau dilihat sudah setahun lebih,” terdengar suara dalam video itu. Dari rekaman itu pula terlihat adanya tanaman sawit di sekitar area tersebut.

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel