Kasus Menjelang hanya satu episode terbaru dari serial panjang yang tak pernah selesai.
Sorotan publik juga mengarah pada pemilik dua ekskavator.
Keberanian mereka menggerakkan alat berat di lahan tanpa identitas resmi menimbulkan beberapa pertanyaan:
Apakah mereka benar meyakini kegiatan ini legal?
Ataukah mereka hanya bergantung pada kalimat lama: “kami hanya menjalankan perintah”?
Dalam hukum pertambangan, frasa itu tidak pernah menjadi alasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bangka Belitung berkali-kali diguncang kasus tambang serupa:
legalitas tak jelas,
aparat tak hadir,
BUMN tak memberi jawaban,
CV kecil mencatut nama besar,
lingkungan rusak lebih cepat daripada dokumen izinnya selesai disusun.
Menjelang adalah cermin itu memantulkan realitas bahwa regulasi hanya kuat di kertas, tetapi lemah di tanah yang digali.
Menjelang berdenting seperti metafora.
Di sana dua ekskavator bekerja tanpa nama, menggali bukan hanya tanah, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola pertimahan negeri ini.
Tanah merah yang dikoyak seperti tubuh yang kehilangan kulitnya.
Suara mesin menjadi doa yang tak pernah dipanjatkan.
Legalitas menjadi bayangan ada dalam aturan, hilang dalam praktik.
Bangka Belitung seolah hidup dalam ironi abadi:
timah adalah berkah, tetapi juga kutukan; sumber ekonomi sekaligus sumber luka.
Tambang datang membawa rezeki untuk sebagian orang, tetapi menyisakan lubang-lubang yang tak lagi bisa mengingat pepohonan.
Tiga pertanyaan kini menggantung, seperti kabut yang enggan mengangkat dari bukit Menjelang:
Apakah CV AMR akan memberikan klarifikasi resmi?
Apakah PT Timah Tbk akan menyatakan apakah kegiatan ini berada dalam IUP mereka atau tidak?
Apakah pemerintah daerah akan turun tangan ketika dua ekskavator sudah lebih dulu bekerja tanpa wajah?
Sampai jawaban itu muncul, tambang Menjelang tetap menjadi operasi tanpa nama, bergerak di ruang yang lebih gelap daripada malam di atas kubangan bekas galian.
Kisah tambang Menjelang bukan sekadar soal dua ekskavator dan satu CV.
Ini adalah potret lama yang kembali muncul:
tanah digali lebih cepat daripada izin ditandatangani, dan hukum berjalan lebih lambat daripada ekskavator yang terus mengunyah bumi.
Menjelang tidak hanya kehilangan pohon dan tanahnya.
Ia perlahan kehilangan suaranya.
Sementara negara, yang seharusnya menjaga, kembali berdiri sebagai penonton yang datang terlambat. (Belva)















