“Perkebunan Desa ini khusus buah nanas sekitar 12 hektar dan ada juga sistem tumpang sari, dengan jumlah 200 rumpun,” jelas dia.
Tak hanya itu, kata Ifan, buah nanas Bikang ini juga sudah didaftarkan ke pendaftaran Indikasi Geografis di Kemenkumham Babel. Dengan harapan nanas Bikang ini bisa menjadi produk olahan yang bernilai jual tinggi.
“Nanas Bikang ini menjadi salah satu icon untuk Kabupaten Bangka Selatan dan Nanas ini sangat di kenal di Pulau Bangka. Tekstur daging buah yang lembut dengan daging buah berwarna kuning dipadukan dengan rasanya yang manis dan menyegarkan menjadikan Nanas Bikang memiliki keunggulan tersendiri,” kata dia.
Untuk mengembangkan perkebunan nanas Bikang ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga telah memberikan bantuan berupa bangsal pasca panen.
Bangsal pasca panen ini diharapkan dapat menampung hasil panen buah nanas milik warga dan kemudian akan di beli oleh pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Untuk pembangunan Bangsal ini sendiri memakan biaya sebesar Rp 200 juta.
“Pemkab Basel juga banyak membantu melalui pendirian Bangsal atau gudang penyimpanan pasca panen,” tuturnya.
Meski demikian, lanjut Ifan, dengan keadaan ekonomi sekarang ini terutama rendahnya harga timah tentu sangat berpengaruh dengan perekonomian warganya. Karena itu, ia bersama perangkat Desa yang lain meminta kepada Pemkab agar dicarikan solusi agar perekonomian tetap stabil.
Karena, kata Ifan, pada 2021 kemarin, sempat ada yang mau mendirikan pabrik untuk pengolahan nanas tetapi hingga sekarang tak berkabar sama sekali. Padahal sangat tepat apabila nanas Bikang ini bisa diolah menjadi sebuah produk apalagi pabriknya berada di desa penghasil nanas.
“Kami berharap desa Bikang bisa menjadi tempat Agrowisata buah nanas, dengan luas lahan yang cukup luas dan juga bisa berkembang dengan baik serta menjadi satu – satunya tempat wisata buah di Kabupaten Bangka Selatan,” pungkasnya.












