Proyek ini merupakan bagian dari program strategis daerah dengan nilai kontrak Rp 8.343.870.000, lebih rendah Rp 3,33 juta dari HPS yang ditetapkan sebesar Rp 8.347.200.000. Pihak kontraktor telah menerima uang muka sebesar 30 persen atau sekitar Rp 2,5 miliar.
Namun, hingga akhir Desember 2024, pekerjaan di lokasi proyek di Simpang Lima, Kecamatan Toboali, masih jauh dari selesai.
Atas keterlambatan ini, kontraktor diberikan perpanjangan waktu selama 50 hari, tetapi dikenakan denda harian sebesar 1/1000 dari nilai kontrak, atau sekitar Rp 8 juta per hari. “Kami optimis proyek selesai pada 31 Desember. Setelah selesai, teknisi dari China dan pihak pabrikan akan memverifikasi hasil pekerjaan sebelum wahana dapat dioperasikan,” tambah Galuh.
Progres Bianglala baru mencapai pemasangan dua tiang utama dari total ketinggian 30 meter. Wahana ini dirancang memiliki 18 kabin, dengan kapasitas masing-masing 4-6 orang.
Sementara itu, pembangunan Rainbow Slide yang berlokasi 50 meter dari Bianglala juga baru memasuki tahap awal. Pekerja mulai memasang lintasan perosotan berwarna-warni dari plastik khusus, namun konstruksi dudukan perosotan belum mencapai setengah dari target pengerjaan. Perosotan ini dirancang memiliki panjang lintasan 56 meter, lebar 6 meter, dan ketinggian 7 meter.
Proyek strategis ini merupakan wahana permainan pertama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan mendapatkan pendampingan langsung dari Kejaksaan Negeri Bangka Selatan. Setelah rampung, Bianglala dan Rainbow Slide diharapkan menjadi ikon wisata baru yang mampu menarik lebih banyak wisatawan ke kawasan tersebut.

















