Biasanya seminggu baru pulang. Kini ayahnya sudah tidak ada, saya masih belum percaya musibah ini terjadi,” kata Winda dengan suara bergetar.
Ia menjelaskan Bahar mengalami luka bakar saat menolong ayahnya yang tersambar petir. Kapal mereka karam dan mesin ikut terbakar.
“Bahar terluka karena menolong bapaknya. Dialah yang memanggil nelayan lain minta pertolongan. Padahal hari itu mereka bilang mau pulang,” tambahnya.
Winda menyampaikan terima kasih atas bantuan yang dinilainya sangat membantu biaya pengobatan.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak atas bantuan PT Timah. Ini sangat berarti bagi kami,” katanya. Ia kini harus mengurus lima anaknya seorang diri.
Ketua DPC HNSI Bangka, Slamet Riyadi, mengapresiasi langkah cepat PT Timah.
“Anak ini memang sejak lama bantu ayahnya ke laut. Alhamdulillah PT Timah cepat merespons dan membantu biaya pengobatan. Ini sangat berguna untuk keluarga,” ujarnya.
Slamet berharap kolaborasi HNSI dan PT Timah terus berlanjut dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan serta membantu keluarga nelayan yang terdampak musibah.
SUKARDI.
















