SEKILASINDONEWS.COM – Ramadhan 2026 menghadirkan suasana berbeda di Kota Tua Mentok, Bangka Barat. Di tengah deretan bangunan kolonial dan jejak sejarah tambang timah, Masjid Jami Mentok kembali menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus saksi panjang perjalanan Islamisasi di Pulau Bangka.
Masjid yang dibangun pada 1880 dan diresmikan tahun 1883 itu tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol toleransi yang hidup berdampingan dengan Klenteng Kong Fuk Miau yang berdiri tak jauh dari lokasinya.
Setiap waktu salat, azan menggema dari menara tua masjid, bersahutan dengan aktivitas masyarakat di kawasan kota lama. Di bulan suci ini, suasana kian terasa khidmat ketika warga memadati masjid untuk tarawih, tadarus, hingga sahur bersama.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, M. Ferhad Irvan, mengatakan Masjid Jami Mentok memiliki nilai historis penting dalam perkembangan Islam di Bangka.

“Masjid ini merupakan masjid pertama di Bangka yang dibangun menggunakan batu. Pada masa itu, kebanyakan surau masih berbahan kayu. Ini menunjukkan komunitas Muslim di Mentok sudah mapan secara sosial dan ekonomi,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Jejak Islamisasi Lewat Jalur Perdagangan
Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke Bangka melalui jalur perdagangan laut sejak abad ke-17 hingga ke-18. Kapal-kapal dari Palembang, Riau, Johor hingga Gujarat singgah di pesisir barat Bangka, termasuk Mentok.
Selain membawa komoditas seperti lada dan timah, para pedagang juga membawa ajaran Islam yang berkembang secara damai melalui interaksi sosial dan budaya.
Masjid Jami Mentok lahir dari inisiatif tokoh lokal Abang Muhammad Ali, seorang demang sekaligus saudagar yang memiliki gagasan membangun masjid besar sebagai pusat ibadah dan pemersatu masyarakat.
Lokasinya dipilih di titik netral agar dapat diakses seluruh kelompok masyarakat Melayu Mentok kala itu.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat musyawarah dan pendidikan agama. Di sinilah Islam berkembang sebagai perekat sosial,” jelas Ferhad.
Hingga kini, bangunan masjid tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan struktur batu kokoh yang telah bertahan lebih dari 140 tahun.
Simbol Toleransi di Kota Mentok
Menariknya, keberadaan Masjid Jami Mentok berdampingan dengan Klenteng Kong Fuk Miau yang dibangun sekitar tahun 1830. Dua rumah ibadah berbeda agama itu berdiri dalam jarak yang berdekatan tanpa pernah memicu konflik sosial.
















