Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena pada waktu bersamaan warga harus menimba air asin dari rumah mereka tanpa adanya bantuan logistik dari pemerintah.
Berbeda dengan pemerintah yang masih menunggu rapat dan persetujuan anggaran, relawan langsung menembus genangan air rob untuk mengantarkan beras. Aksi ini dilakukan tanpa melibatkan protokoler, tanpa spanduk, dan tanpa liputan khusus.
Salah satu relawan, Komarudin, menyampaikan bahwa aksi tersebut dilakukan karena warga membutuhkan bantuan cepat.
“Kami tidak membawa anggaran besar, hanya membawa apa yang paling dibutuhkan warga saat itu. Yang penting mereka bisa makan hari ini,” tegasnya.
Banjir rob di Kampung Tanjung sudah berlangsung bertahun-tahun, namun hingga kini penanganan permanen belum juga terealisasi. Pemerintah baru menyiapkan rencana pembangunan embung dan kajian teknis, namun belum ada langkah konkret di lapangan.
Warga mengaku lebih merasakan manfaat dari relawan dibandingkan dari program pemerintah yang masih berada pada tahap perencanaan.
“Selama ini yang datang cepat selalu warga dan relawan. Kami butuh tindakan, bukan rapat,” kata seorang warga.
Aksi gerak cepat para relawan itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat membutuhkan kehadiran nyata pemerintah terutama saat bencana, bukan sekadar wacana anggaran.
Di tengah banjir rob yang terus berulang, inisiatif relawan ini justru menjadi tumpuan pertama yang benar-benar membantu kebutuhan dasar masyarakat di lapangan.
Bantuan 800 karung beras dari relawan itu menjadi pengingat bahwa di tengah banjir rob yang terus berulang, aksi kemanusiaan dari warga biasa terkadang lebih cepat sampai dibanding program pemerintah. (Belva)
















