Farouk menambahkan, perpustakaan tidak boleh lagi hanya jadi tempat baca buku. “Perpustakaan harus hadir sebagai ruang edukasi sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata,” katanya.
Ia juga menegaskan, pendidikan tidak mengenal batas usia. “Lansia juga harus tetap memiliki ruang untuk berkembang dan merasa berarti di tengah masyarakat,” ujarnya.
Farouk menilai perpustakaan daerah harus bertransformasi menjadi pusat aktivitas sosial dan pemberdayaan.
“Melalui Sekolah Lansia SalSa ini, kami berharap perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang belajar sosial yang hidup dan menyentuh kebutuhan masyarakat lansia secara langsung,” tutur Farouk.
Sementara itu, Ketua Salimah Bangka Barat, Apt Riza Umami, menyebut SalSa merupakan program nasional Salimah yang dikembangkan sesuai kebutuhan lokal.
“Banyak lansia yang sebenarnya masih ingin aktif, ingin belajar dan ingin didengar. Kami ingin menghadirkan ruang yang membuat mereka tetap merasa berharga dan memiliki semangat hidup,” ungkap Riza.
Riza menjelaskan, kurikulum SalSa mencakup kesehatan, psikologi, keagamaan, keterampilan sosial, pengelolaan keuangan, hingga pemahaman teknologi digital. Metode pembelajaran dibuat sederhana dan menyenangkan.
“Sejumlah peserta mengaku tertarik belajar teknologi digital agar bisa memakai smartphone dan media sosial dengan aman. Ada juga yang berharap SalSa jadi wadah berkumpul untuk mengusir kesepian di usia senja,” ujar Riza. (*)














