Talisno, Penjaga Warna Bangka: Tiga Dekade Mengajar Seni, Merawat Jiwa Generasi dari Parit Padang
SEKILASINDONEWS.COM – Lebih dari tiga puluh tahun, Talisno memilih berjalan di jalur sunyi mengajar seni rupa di sekolah negeri, membuka rumahnya bagi anak-anak dan menjaga seni tetap hidup di Bangka. Di tengah arus zaman yang semakin cepat dan serba digital, ia menjadi salah satu penjaga nilai bahwa pendidikan, kebudayaan dan seni tidak lahir dari gemerlap, melainkan dari kesetiaan.
Talisno adalah Guru Seni dan Budaya sekaligus Pegawai Negeri Sipil yang kini mengabdi di UPTD SMP Negeri 5 Sungailiat, sekolah berakreditasi A di Jalan Jenderal Sudirman, Parit Padang.
Sejak 2009 hingga hari ini, ia mengajar di sekolah yang jaraknya nyaris menyatu dengan rumahnya menjadi sebuah simbol kehidupan yang tanpa sekat antara ruang kerja dan pengabdian.
“Seni itu tidak pernah minta dipamerkan. Ia hanya minta dirawat. Kalau dirawat, ia hidup sendiri,” ujar Talisno pelan, Rabu pagi, 24 Desember 2025.
Pagi itu, Parit Padang masih basah oleh embun. Angin laut membawa aroma asin ke sela-sela rumah warga. Di sebuah rumah sederhana di Sungailiat, dinding-dinding tidak sepenuhnya putih. Sebagian menyimpan jejak warna yang mengering, garis yang belum selesai dan bidang kosong yang sengaja dibiarkan bernapas.
Rumah itulah ruang hidup Talisno. Sekaligus ruang belajar.
Di ruang tamu, tersusun berbagai karya seperti lukisan burung-burung kecil berwarna merah, kuning dan biru yang bertengger di dahan mangga, sepasang burung nuri merah menyala berlatar air terjun dan pegunungan, potret kucing bermata hijau tajam, serta sebuah lukisan hitam-putih air terjun malam dengan bulan menggantung di langit gelap.
Setiap karya bukan sekadar objek visual, melainkan medium pengajaran.
“Saya tidak memilih tema yang jauh-jauh. Saya memilih yang dekat dengan anak-anak burung, buah, kucing dan air. Dari yang dekat, mereka belajar mencintai. Dari mencintai, mereka belajar menjaga,” katanya.
Dalam lukisan burung di dahan mangga, daun-daun digambar teliti, uratnya tegas, cahaya jatuh lembut dari sisi kiri. Burung-burung itu tidak statis ada yang mengepak, menoleh, dan diam.
“Ini tentang keseimbangan. Alam itu ramai tapi tertib. Burung tidak saling berebut, buah tidak iri pada daun. Anak-anak perlu melihat itu sejak dini,” ujar Talisno.
Baginya, seni bukan hanya soal keindahan, tetapi juga etika hidup. Hal itu terlihat pula dari ketertarikannya pada karikatur. Jenis gambar yang menuntut keberanian membaca karakter tanpa melukai.
“Karikatur itu humor yang jujur. Kita tertawa, tapi tidak merendahkan. Itu etika seni,” katanya.
Potret kucing bermata hijau yang detail menjadi sarana mengajarkan tanggung jawab garis. “Satu garis bisa mengubah ekspresi. Anak-anak belajar bertanggung jawab pada setiap goresan.”
Talisno tidak membatasi seni pada kanvas. Di sudut garasi rumahnya, sebuah lukisan air terjun malam digoreskan langsung di tembok. Hitam-putih, kontras tajam, sunyi.
“Kalau menunggu kanvas baru melukis, seni akan sering tertunda. Dinding ini juga jujur. Ia tidak pernah protes. Ia hanya menerima,” katanya sambil tersenyum.
Lukisan itu meditatif. Bulan memantul di air gelap. Bebatuan digambar kasar tanpa kompromi.
“Ini tentang jeda. Anak-anak juga perlu jeda. Tidak semua harus berwarna-warni. Kadang diam itu yang menguatkan.” katanya.














