Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

Talisno, Penjaga Warna Bangka: Tiga Dekade Mengajar Seni, Merawat Jiwa Generasi dari Parit Padang

×

Talisno, Penjaga Warna Bangka: Tiga Dekade Mengajar Seni, Merawat Jiwa Generasi dari Parit Padang

Sebarkan artikel ini
Talisno, Penjaga Warna Bangka: Tiga Dekade Mengajar Seni, Merawat Jiwa Generasi dari Parit Padang

Perjalanan pengabdian Talisno dimulai pada 1990 di SMP Negeri 1 Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Fasilitas terbatas, alat seadanya.

“Kreativitas tidak menunggu alat lengkap. Ia menunggu keberanian,” katanya mengenang.

Pada 1993, ia melanjutkan pengabdian di SMP Negeri 2 Sungailiat, tempat ia menghabiskan 16 tahun. Kurikulum berganti, generasi datang dan pergi, tetapi keyakinannya tidak berubah bahwa seni harus hidup di sekolah.

Sejak 2009, ia mengajar di SMP Negeri 5 Sungailiat hingga kini.

“Kalau guru jauh dari murid, ilmunya sering ikut menjauh,” ujarnya.

Di luar jam sekolah, rumah Talisno menjadi ruang belajar alternatif. Anak-anak datang membawa kertas, pensil, dan harapan. Tidak ada spanduk. Tidak ada janji instan.

“Saya tidak menjanjikan juara. Saya menjanjikan proses. Kalau proses dijalani, juara itu bonus,” katanya.

Dari ruang sederhana itu, banyak murid menjuarai lomba melukis. Piagam-piagam tersimpan rapi bukan untuk pamer, melainkan pengingat bahwa kerja sunyi memiliki arti.

“Saya bangga bukan karena pialanya. Saya bangga karena anak-anak berani mencoba.” jelasnya dengan nada senyuman.

Talisno tidak menolak teknologi. Ia hanya memberi batas.

“Gawai itu alat, bukan pengganti tangan. Tangan yang kotor cat mengajarkan tanggung jawab. Layar tidak,” katanya.

Ia mengajarkan proses bahwa sketsa, kesalahan, perbaikan, hingga selesai.

“Kesalahan itu guru pertama.”

Di Bangka, seni sering bertahan sebagai api kecil, mudah padam jika tidak dijaga. Talisno adalah salah satu penjaganya, di ruang kelas, di rumah dan di dinding-dinding yang ia biarkan berbicara.

Menjelang siang, cahaya bergeser. Bayangan berpindah di tembok yang pernah menjadi kanvas. Talisno merapikan kuasnya.

“Selama masih ada anak menggenggam pensil dengan harap, saya akan mengajar. Kalau suatu hari saya berhenti, biarlah karya-karya itu yang bicara.” jelasnya.

Talisno mungkin tidak dikenal secara nasional. Namun di Sungailiat, Mentok, dan Bangka Barat, namanya hidup dalam garis yang dulu gemetar kini mantap, dan warna yang dulu ragu kini berani.

Ia membuktikan bahwa pendidikan dan kebudayaan tidak selalu membutuhkan sorotan besar, cukup satu orang yang setia, satu ruang yang dibuka dan satu keyakinan bahwa seni layak diperjuangkan.

Selama masih ada dinding yang menunggu warna, Talisno akan tetap melukis dan mengajar di tanah yang ia cintai. (*)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel