“Inflasi harus dilawan dengan tindakan konkret, bukan sekadar angka di atas kertas. Pasar murah adalah jawaban paling dekat dengan kebutuhan rakyat,” tegas Hefi.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan DKUKMINDAG Bangka Selatan Era Fitrawati menambahkan, program ini dirancang untuk merespons fluktuasi harga yang kerap terjadi menjelang momen keagamaan.
“Pasar murah kami gelar berkala. Tujuannya meringankan beban belanja warga sekaligus menjaga stabilitas harga di pasaran,” kata Era.
Di lapangan, antusiasme warga tak terbendung. Banyak ibu rumah tangga mengaku terbantu oleh selisih harga yang cukup signifikan dibanding membeli di toko atau pasar.
Rini (41), salah seorang warga, datang sejak pagi demi mendapatkan beras subsidi.
“Selisihnya lumayan, apalagi sekarang apa-apa mahal. Kegiatan seperti ini sangat menolong kami,” tuturnya.
Dalam operasi pasar tersebut, pemerintah menyiapkan beragam bahan pokok dengan stok terukur. Beras SPHP 5 kilogram dijual Rp59.000 dengan ketersediaan 350 karung, sementara beras premium dibanderol Rp76.000.
Kebutuhan dapur lain seperti tepung terigu Segitiga Biru dijual Rp12.000, gula pasir Rp17.500, dan kecap Bango Rp20.000 per kemasan.
Komoditas hortikultura dari distributor Dayat Bumbu juga ludes diburu pembeli: bawang merah Rp32.000 per kilogram, bawang putih Rp31.000, cabai besar Rp39.000, cabai kecil Rp75.000, serta kentang Rp12.000 per kilogram. (*)
















