“Setelah mengetahui posisi korban tidak jauh dari akses yang ada, tim memperbesar jalur evakuasi dengan teknik cutting, breaking, dan breaching untuk mencapai korban,” lanjut Stefanus.
Keadaan gedung yang runtuh dengan pola pancake menjadi tantangan tersendiri dalam proses evakuasi. Untuk memastikan keamanan tim penyelamat, INASAR menggunakan Warning Alarm for Stability Protection (WASP), alat pendeteksi getaran bangunan, guna memastikan struktur gedung masih stabil untuk dimasuki.
“Tantangan terbesar terjadi saat mengevakuasi korban ketiga, yang ditemukan dalam posisi duduk dan tertimpa tiang penyangga bangunan. Tim harus bekerja ekstra hati-hati untuk menghindari risiko tambahan akibat pergerakan struktur bangunan yang tidak stabil,” ujarnya.
Selain melakukan evakuasi korban, komponen medis INASAR juga memberikan pertolongan pertama kepada anggota Fire Brigades Myanmar yang mengalami luka laserasi saat proses pencarian berlangsung.
Keberhasilan Tim INASAR dalam misi penyelamatan ini merupakan bukti nyata kerja sama internasional dalam tanggap bencana.
“Tim terus berupaya memberikan bantuan dan melakukan pencarian terhadap kemungkinan korban lainnya di lokasi terdampak gempa,” pungkasnya.





















