“Sekarang itu pembeli dan penjual tidak saling kenal. Barang diletakkan di titik tertentu, istilahnya mapping. Bahkan ada yang dikendalikan dari dalam lapas, pakai komunikasi elektronik,” jelasnya.
Namun di tengah kompleksnya jaringan tersebut, Matoridi mempertanyakan mengapa aparat belum mampu mengungkap bandar besar.
“Kenapa tidak ada tangkapan besar? Kenapa selalu kecil? Ini jadi pertanyaan besar di masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai, selama ini penindakan lebih banyak menyasar pengedar kecil. Padahal, menurut dia, dari sejumlah kasus sebelumnya, arah distribusi narkoba sudah cukup jelas.
“Kalau melihat temuan sabu puluhan kilo beberapa waktu lalu, baik di Mentok maupun di perairan Belitung, itu kan jelas pasti tujuannya juga untuk di edarkan ke Bangka Selatan,” ujarnya.
Tak hanya soal narkoba, Matoridi juga menyoroti tren lain yang mulai marak, seperti konsumsi kratom di kalangan pekerja tambang dan anak muda.
Ia menilai, fenomena ini bisa menjadi pintu masuk bagi penyalahgunaan zat berbahaya lainnya.
“Generasi muda kita ini sedang terancam. Kalau tidak ditangani serius, kita bisa kehilangan masa depan mereka,” katanya.
Matoridi berharap aparat penegak hukum (APH) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dapat bekerja lebih maksimal, khususnya dalam mengungkap jaringan besar.
Ia menegaskan, masyarakat menunggu langkah nyata, bukan sekadar penindakan rutin.
“Kami berharap ada tangkapan besar, big fish. Supaya kepercayaan masyarakat kembali,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama tokoh desa, untuk lebih peduli dan berani melaporkan aktivitas mencurigakan.
“Ini bukan hanya tugas aparat. Semua harus bergerak. Kalau ada peredaran narkoba di desa, harus berani dilaporkan,” tegasnya. (*)



















