Namun, makna Sembahyang Rebut tidak berhenti di ranah spiritual. Ketua panitia menegaskan, tradisi ini juga mengandung nilai sosial yang kuat karena kerap diikuti masyarakat non-Tionghoa. Hal ini menjadikannya sebagai ruang perekat toleransi dan kebangsaan di tengah keberagaman.
Bupati Markus menutup sambutannya dengan pantun, mengajak seluruh masyarakat untuk terus melestarikan tradisi leluhur tersebut:
Orang ke laut mencari ikan
Ikan ditangkap dengan jala
Sembahyang Rebut kita lestarikan
Tradisi leluhur yang wajib dijaga
Dari timur sampai ke barat
Kita semua adalah teman
Mari berkumpul wahai kerabat
Sembahyang Rebut kita laksanakan
Sembahyang Rebut di Mentok kini tak lagi sekadar pesta adat atau ritual tahunan, melainkan telah menjadi aset budaya daerah yang memperkaya khazanah pariwisata Bangka Belitung. Ia adalah jejak sejarah, ungkapan bakti, sekaligus perekat sosial yang akan terus terjaga dari generasi ke generasi. (blv)





















