Eris mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menjelaskan secara transparan soal anggaran desa, termasuk pemasangan informasi yang dipertanyakan wartawan tersebut. Ia juga menyoroti bahwa beberapa pemberitaan tidak berdasarkan sumber yang berkompeten.
“Kalau soal aduan masyarakat, saya tanya ke bidang kemasyarakatan, tidak ada yang mempermasalahkan. Kalau memang ada laporan, silakan saja. Biar nanti ranah hukum yang menentukan. Saya siap dipanggil kapan pun,” tambah Eris.
Ketika disinggung mengenai dirinya yang disebut jarang berada di kantor, Eris membantah bahwa hal tersebut berkaitan dengan kejadian ini. Ia menjelaskan bahwa tugas kepala desa memang lebih banyak berada di lapangan.
“Kepala desa itu 70% bekerja di luar, 30% di kantor. Beberapa minggu kemarin saya sempat sakit. Setelah pulih, jadwal saya sangat padat. Kadang jam delapan harus rapat di Tangerang, sementara kantor desa juga buka jam delapan. Jadi otomatis saya langsung ke tempat rapat,” jelasnya.
Eris berharap semua pihak dapat melihat kejadian secara jernih dan tidak langsung menyimpulkan berdasarkan informasi yang belum tentu benar.
“Intinya, jangan menilai sepihak. Kita bisa duduk bersama membahas masalah ini. Kami punya data bahwa kejadian sebenarnya tidak seperti yang diberitakan,” tutupnya.
Bagindo Yakub.
















