Salah satunya terjadi di Desa Rias. Sebagian besar petani di wilayah tersebut telah menyelesaikan panen, meski produktivitas yang diperoleh mengalami penurunan akibat kondisi kekeringan.
“Namun sebagian besar petani ada yang sudah memanen duluan sebelum kekeringan terjadi,” kata Luhung.
Tak hanya kehilangan hasil panen, kondisi tersebut, kata Luhung, juga membuat sebagian petani terpaksa menunda musim tanam berikutnya karena lahan belum mendapatkan pasokan air yang cukup.
Petani yang telah menyelesaikan panen belum bisa langsung kembali mengolah dan menanami lahannya. Mereka masih harus menunggu ketersediaan air hingga kondisi lahan memungkinkan untuk ditanami kembali.
“Dampak dari kekeringan ini juga membuat sebagian petani yang telah selesai panen belum bisa melanjutkan ke musim tanam berikutnya,” ujar Luhung.
Menurut Luhung, luas lahan yang mengalami puso tahun ini sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, lahan persawahan yang tercatat mengalami puso mencapai sekitar 117 hektare.
Namun, penurunan angka tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kekeringan terhadap produksi pertanian. Sebab, dampaknya kini mulai merembet pada mundurnya jadwal tanam dan panen.
Jika kondisi kemarau terus berkepanjangan, masa produksi padi dikhawatirkan semakin bergeser dari jadwal normal.
“Jadi mungkin panen perdana di awal tahun depan itu mungkin di bulan Februari atau Maret. Itu yang menjadi pergeseran waktu untuk panen nanti,” kata Luhung. (*)














