Dari Ombak ke Botol Miras: Tragedi Sosial yang Perlahan Menenggelamkan Pantai Pasir Kuning
SEKILASINDONEWS.COM – Ombak masih datang dan pergi di Pantai Pasir Kuning. Angin laut masih berembus membawa aroma asin khas pesisir. Namun ketika malam turun, suasana di kawasan wisata itu tak lagi sepenuhnya menghadirkan ketenangan.
Di balik gelapnya malam, suara botol pecah mulai menggantikan desir ombak. Aroma alkohol bercampur dengan sampah berserakan di sudut bangunan yang lembap dan minim penerangan. Pantai yang dulu menjadi tempat masyarakat mencari tenang kini perlahan memperlihatkan wajah lain: ruang publik yang kehilangan pengawasan sosial.
Foto yang diterima redaksi memperlihatkan pemandangan yang sulit dianggap sekadar persoalan sampah biasa. Botol minuman keras tergeletak di lantai beton yang kotor, dikelilingi bungkus rokok, plastik bekas dan sisa aktivitas malam lainnya.
Bagi sebagian warga, pemandangan itu bukan hanya mengotori pantai.
Ia menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlahan rusak di ruang sosial masyarakat pesisir.
“Dulu orang datang ke sini cari angin laut dan ketenangan. Sekarang kalau malam banyak yang takut lewat,” ujar Ali (56), nama disamarkan atas permintaannya, Minggu (17/05/2026).
Dengan tatapan muram ke arah laut, Ali mengaku perubahan yang terjadi bukan lagi sekadar persoalan kebersihan atau kenakalan remaja biasa. Menurutnya, ada pergeseran sosial yang mulai terasa semakin mengkhawatirkan.
“Kadang terdengar ribut, orang mabuk, botol pecah sampai dini hari. Yang paling sedih, masyarakat mulai terbiasa melihat itu,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang dalam.
Sebab kerusakan sosial paling berbahaya bukan ketika ia muncul, melainkan ketika masyarakat mulai menganggapnya biasa.
Pantai Pasir Kuning dulunya dikenal sebagai ruang terbuka masyarakat pesisir Bangka Barat. Tempat keluarga menikmati sore, tempat nelayan melepas lelah sepulang melaut, sekaligus ruang berkumpul anak-anak muda tanpa rasa khawatir.
Namun beberapa tahun terakhir, sebagian warga mengaku suasana mulai berubah ketika malam datang.
Minimnya penerangan, lemahnya pengawasan dan aktivitas malam yang sulit dikendalikan disebut membuka ruang bagi berbagai perilaku menyimpang.
Sebagian pedagang kecil bahkan memilih menutup warung lebih awal.
Mereka takut keributan.
Takut mabuk-mabukan.
Takut kawasan wisata kehilangan citra aman bagi keluarga.
“Kalau situasi seperti ini terus dibiarkan, wisatawan bisa enggan datang. Yang paling rugi masyarakat kecil,” ujar seorang pedagang di sekitar pantai.
Keresahan warga itu sejalan dengan berbagai penelitian mengenai hubungan antara lemahnya kontrol sosial dan meningkatnya penyimpangan di ruang publik.
Dalam kajian Disorganisasi Sosial dan Kenakalan Remaja di Kawasan Pesisir, disebutkan bahwa ruang publik yang kehilangan aktivitas sosial positif dan pengawasan masyarakat berpotensi menjadi titik tumbuh perilaku menyimpang, mulai dari konsumsi alkohol hingga kriminalitas ringan.
Sosiolog Universitas Indonesia, Soerjono Soekanto, menjelaskan bahwa penyimpangan sosial muncul ketika norma tidak lagi dijaga secara kolektif oleh masyarakat.
Sebagian warga Pantai Pasir Kuning kini mulai merasakan gejala itu tumbuh perlahan di lingkungan mereka.
Di banyak wilayah pesisir, alkohol sering kali hadir bukan sekadar sebagai minuman, melainkan simbol pelarian sosial. Ia tumbuh di ruang-ruang yang kehilangan harapan, minim aktivitas produktif dan lemah pengawasan.
Badan Narkotika Nasional dalam sejumlah laporan menyebut lingkungan yang permisif terhadap konsumsi alkohol memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penyalahgunaan zat adiktif lainnya.
Sementara penelitian dalam Journal of Substance Abuse Treatment menunjukkan konsumsi alkohol di ruang publik tanpa pengawasan kerap berkaitan dengan meningkatnya perilaku agresif, kekerasan hingga tindakan kriminal berbasis kelompok.
Di Pantai Pasir Kuning, sebagian warga mengaku mulai melihat aktivitas mencurigakan pada malam hari.
















