Namun banyak yang memilih diam.
“Orang takut bicara. Takut salah, takut dibalas,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Menurutnya, pembiaran adalah pintu paling berbahaya bagi tumbuhnya penyakit masyarakat.
Sebab ketika mabuk-mabukan, transaksi mencurigakan atau perilaku menyimpang lainnya mulai dianggap lumrah, maka perlahan masyarakat kehilangan kontrol terhadap ruang hidupnya sendiri.
“Kalau generasi muda mulai menganggap mabuk di pantai itu biasa, itu tanda kita sedang kehilangan kontrol sosial,” katanya.
Di balik botol-botol kosong itu, tersimpan kegelisahan yang lebih besar.
Ada nelayan yang khawatir ruang hidupnya rusak.
Ada pedagang kecil yang takut kehilangan pembeli.
Ada keluarga yang mulai merasa asing di kawasan wisata milik mereka sendiri.
Psikolog sosial Universitas Gadjah Mada, Koentjoro, dalam kajiannya mengenai perilaku remaja menyebut lingkungan sosial yang permisif terhadap alkohol dan narkoba dapat membentuk normalisasi perilaku berisiko pada usia muda.
Ketika ruang publik lebih sering dipenuhi aktivitas destruktif dibanding kegiatan produktif, generasi muda akan lebih mudah terseret dalam pola pergaulan yang merusak.
Itulah yang kini mulai ditakutkan masyarakat pesisir di Pantai Pasir Kuning.
Mereka bukan hanya takut pada botol-botol miras.
Mereka takut kehilangan masa depan sosial kawasan itu.
Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, pernah menyebut pencegahan kriminalitas sosial tidak cukup hanya mengandalkan tindakan represif aparat keamanan.
Kontrol sosial masyarakat, penerangan ruang publik, aktivitas kepemudaan hingga keterlibatan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam menjaga ruang sosial tetap sehat.
Warga berharap ada langkah nyata sebelum situasi berkembang lebih jauh.
“Kami ingin pantai ini kembali jadi tempat keluarga. Tempat orang mencari tenang, bukan tempat orang mabuk,” ujar seorang warga lainnya.
Malam di Pantai Pasir Kuning mungkin akan terus datang.
Ombak akan tetap pecah di bibir pantai seperti biasa.
Namun di antara lantai beton yang dipenuhi botol kosong itu, masyarakat kini seperti sedang dihadapkan pada satu pertanyaan besar:
Apakah kawasan wisata ini masih akan diwariskan sebagai ruang hidup masyarakat pesisir?
Atau perlahan berubah menjadi ruang gelap yang tumbuh dari pembiaran panjang?
Sebab penyakit masyarakat tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia hadir diam-diam.
Tumbuh di sudut-sudut gelap.
Lalu mengambil ruang hidup masyarakat sedikit demi sedikit sampai semuanya terlambat disadari. (Belva)
















