Sebab selama ini mereka merasa terlalu jauh dari birokrasi dan terlalu kecil untuk benar-benar didengar.
HNSI Babel melalui Mustofah kemudian menegaskan siap membantu seluruh proses pendataan agar nelayan kecil tidak lagi tercecer dalam distribusi solar subsidi.
“Harus ada foto perahu, foto orangnya, surat keterangan nelayan, kartu Kusuka dan identitas yang jelas. Kalau desa kesulitan, kami bantu sampai selesai,” ujarnya.
Di Desa Tanjung Niur sendiri, saat ini baru terdapat dua kelompok nelayan resmi yakni Kelompok Berkah Jaya yang dipimpin Robin dan Kelompok Kepiting Laut Bersatu yang diketuai Hadiran.
Jumlah anggota aktif dari dua kelompok tersebut hanya sekitar 40 orang.
Sementara lebih dari 110 nelayan lainnya masih bekerja secara mandiri tanpa kelompok resmi.
Menurut Mustofah, kondisi itu membuat banyak nelayan kesulitan masuk dalam sistem distribusi BBM subsidi.
“Kalau nelayan mandiri ini dibuatkan kelompok, semuanya akan lebih mudah diurus,” katanya.
Di tengah diskusi, suasana sempat hening ketika seorang nelayan mulai berbicara tentang dugaan kebocoran distribusi solar.
“Kami merasa ada permainan solar,” ucapnya perlahan.
Tak ada nada marah dalam kalimat itu.
Hanya rasa lelah yang terlalu lama dipendam.
Beberapa nelayan lain langsung mengangguk setuju. Mereka berharap solar diprioritaskan untuk nelayan aktif yang benar-benar bekerja di laut, bukan jatuh ke tangan pihak yang tidak tepat sasaran.
“Kami cuma minta yang aktif melaut dulu dibantu,” ujar nelayan lainnya.
Mustofah menegaskan HNSI Babel tidak ingin persoalan ini berhenti hanya pada rapat dan pendataan semata.
Menurutnya, harus ada langkah konkret agar nelayan Tempilang bisa kembali bekerja dengan tenang.
Karena itu, usai dari Tanjung Niur, rombongan HNSI Babel langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Benteng Kota untuk bertemu nelayan serta berdiskusi dengan pengelola SPBN.
Pertemuan tersebut membahas komitmen memperbaiki tata kelola distribusi BBM agar solar benar-benar sampai kepada nelayan yang membutuhkan.
Bagi HNSI Babel, persoalan solar di Tempilang bukan sekadar masalah distribusi energi.
Ini tentang keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.
Tentang anak-anak nelayan yang harus tetap sekolah.
Tentang keluarga kecil yang tetap harus makan.
Dan tentang nelayan kecil yang tidak boleh kalah oleh sistem yang rumit.
Sekretaris Desa Tanjung Niur yang turut hadir dalam diskusi juga mengakui pemerintah desa kerap kesulitan mendata seluruh nelayan karena sebagian masyarakat belum tertib administrasi.
“Terkadang masyarakat susah diatur, sehingga kami dari desa juga kesulitan mendapatkan data lengkap,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah desa memastikan siap membantu proses pendataan agar distribusi solar benar-benar tepat sasaran.
Dalam diskusi tersebut, persoalan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan juga ikut dibahas. Sebab selama ini banyak nelayan bekerja mempertaruhkan nyawa di laut tanpa perlindungan kerja yang memadai.
Di sela pembicaraan, Mustofah juga mengingatkan pentingnya persatuan masyarakat pesisir dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Desa Permis mampu memperjuangkan manfaat sosial dari keberadaan usaha tambak udang bagi masyarakat dan nelayan terdampak.
“Kalau masyarakat bersatu, perusahaan juga harus menghargai masyarakat. Harus ada manfaat untuk desa, nelayan, tempat ibadah dan masyarakat terdampak,” katanya.
Menjelang sore, langit Tempilang perlahan berubah jingga.
Angin laut bertiup lebih dingin menyapu bibir pantai Tanjung Niur.
Beberapa nelayan kembali duduk di dekat perahu mereka. Ada yang memperbaiki jaring. Ada pula yang hanya diam memandangi laut yang perlahan mulai gelap.
Seorang nelayan tua tampak mengusap tangannya yang kasar akibat puluhan tahun menarik jaring dan memegang tali perahu.
“Sebenarnya kami tidak minta kaya,” katanya lirih.
Matanya tetap menatap laut.
“Kami cuma ingin bisa melaut seperti biasa. Kalau solar ada, kami bisa kerja. Anak-anak bisa makan.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di pesisir Tempilang hari ini, itulah harapan terbesar yang sedang diperjuangkan para nelayan kecil agar mereka tidak kehilangan lautnya sendiri. (*)














