Dalam sambutannya, Fatimah membagikan kisah inspiratif dari seorang penyandang disabilitas binaan Gerindra di Bekasi bernama Ibu Yuli.
Berkat aksesibilitas dan akomodasi yang layak, Ibu Yuli mengalami perubahan luar biasa dari sebelumnya penerima zakat, kini menjadi pembayar zakat.
“Ini transformasi yang kita harapkan terjadi pada seluruh penyandang disabilitas,” katanya.
Fatimah menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 merupakan fondasi utama perubahan perspektif terhadap penyandang disabilitas.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pemuda, perempuan, dan penyandang disabilitas sebagai prioritas pembangunan nasional.
“Political will beliau memberikan Makan Bergizi Gratis dua kali sehari bagi penyandang disabilitas sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan bahwa banyak penyandang disabilitas yang tidak bersekolah, sehingga mekanisme distribusi makanan harus dirancang secara matang.
“Mobilisasi penyandang disabilitas tidak sederhana. Kebutuhan mereka beragam. Karena itu, political will harus diikuti mekanisme yang terarah,” tegasnya.
Fatimah juga menyoroti krisis kesehatan mental generasi muda. WHO mencatat bahwa satu dari tiga remaja dunia berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.
Menjawab kondisi ini, KND telah menerbitkan Fikih Penguatan Disabilitas Mental dan Sosial, yang saat ini masih dalam bentuk dummy book.
Ia berharap Gerindra dapat memperjuangkan penguatan regulasi terkait isu tersebut agar seluruh peraturan hukum selaras dengan UU Disabilitas, termasuk larangan pemasungan yang merupakan pelanggaran HAM.
Di akhir sambutannya, Fatimah mengajak seluruh penyandang disabilitas untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Kita bukan hanya penerima manfaat, tetapi aktor pembangunan.
Tingkatkan kapasitas kita agar bisa membangun Indonesia yang inklusif, bermartabat, dan bebas diskriminasi.” ucapnya.
“Kekurangan dan keterbatasan bukan untuk menghentikan langkah kita, tetapi untuk memanggil keberanian dan kekuatan kita. Disabilitas bisa. Disabilitas berkarya untuk Indonesia berjaya.” tutupnya.
Herman Yakub.


















