Laut Tempilang Diduga Dijarah Diam-Diam, Pasir Timah dari DU-1545 Disebut Mengalir Lewat Jalur Gelap
SEKILASINDONEWS.COM – Laut Tempilang perlahan berubah menjadi ruang sunyi yang menyimpan kegelisahan panjang masyarakat pesisir. Di tengah gelap malam dan deru mesin ponton tambang yang terus terdengar dari kejauhan, warga menduga praktik penyelundupan pasir timah dari kawasan tambang laut DU-1545 berlangsung diam-diam dan nyaris tanpa pengawasan.
Bagi nelayan Air Lintang dan Benteng Kota, yang hilang dari laut mereka hari ini bukan hanya ikan.
Tetapi juga rasa aman, ruang hidup, dan harapan untuk bertahan sebagai masyarakat pesisir.
Di perairan yang dahulu menjadi sumber penghidupan utama warga, kini cahaya kapal-kapal kecil justru memunculkan keresahan baru.
Aktivitas laut pada malam hari disebut semakin ramai, sementara hasil tangkapan nelayan terus menurun dari waktu ke waktu.
Warga menduga pasir timah dari kawasan DU-1545 milik PT Timah mengalir melalui jalur-jalur kecil laut menuju titik distribusi tertentu hingga disebut mengarah ke wilayah Desa Tanjung Niur.
“Orang kampung tahu ada kapal keluar masuk malam hari. Tapi banyak yang takut bicara karena merasa tidak punya kekuatan,” ujar Ali (56), nelayan Air Lintang, Jumat (22/5/2026).
Ia duduk di dermaga kayu sederhana sambil menatap laut cukup lama.
Wajahnya terlihat letih. Baginya, laut kini tidak lagi memberi ketenangan seperti dulu.
“Yang keluar dari laut itu bukan cuma timah. Harapan nelayan juga ikut dibawa pergi,” katanya lirih.
Masyarakat pesisir Tempilang hidup dari laut jauh sebelum timah menjadi komoditas besar di Pulau Bangka.
Laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang membesarkan generasi demi generasi masyarakat pesisir.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, para nelayan mengaku kondisi laut berubah drastis.
Air disebut semakin keruh, dasar laut berubah, kawasan tangkap tradisional mulai hilang, ikan menjauh dari pesisir. Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya operasional yang semakin tinggi.
“Dulu subuh turun melaut, siang sudah bisa bawa ikan banyak. Sekarang kadang solar habis duluan,” ujar nelayan Benteng Kota lainnya.
Di sejumlah titik pesisir Tempilang, perahu-perahu kayu tampak lebih lama bersandar di bibir pantai.














