Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

Laut Tempilang Diduga Dijarah Diam-Diam, Pasir Timah dari DU-1545 Disebut Mengalir Lewat Jalur Gelap

×

Laut Tempilang Diduga Dijarah Diam-Diam, Pasir Timah dari DU-1545 Disebut Mengalir Lewat Jalur Gelap

Sebarkan artikel ini
Laut Tempilang Diduga Dijarah Diam-Diam, Pasir Timah dari DU-1545 Disebut Mengalir Lewat Jalur Gelap

Sebagian jaring nelayan bahkan dibiarkan rusak tanpa diperbaiki karena penghasilan yang terus menurun.

Banyak anak muda pesisir kini mulai meninggalkan profesi nelayan dan memilih menjadi buruh sawit maupun pekerja serabutan.

Ironisnya, di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit, aktivitas timah di laut justru disebut tetap berjalan.

Warga menduga arus distribusi pasir timah dari kawasan DU-1545 berlangsung secara senyap melalui jalur laut pada malam hari.

Kapal-kapal kecil disebut hilir mudik membawa karung pasir timah menuju titik tertentu sebelum dipindahkan melalui jalur darat.

Aktivitas itu disebut berlangsung seperti rahasia umum yang diketahui masyarakat pesisir, namun jarang berani dibicarakan secara terbuka.

“Kalau memang laut kami menghasilkan miliaran rupiah, kenapa nelayan tetap hidup susah?” kata Ali.

Pertanyaan itu menjadi gambaran keresahan masyarakat pesisir yang merasa hanya menerima dampak kerusakan lingkungan tanpa menikmati hasil besar dari aktivitas tambang timah laut.

Bangka Belitung sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah terbesar di dunia.

Namun di banyak kampung pesisir, nelayan justru hidup dalam tekanan ekonomi yang semakin berat.

Di Tempilang, masyarakat mulai mempertanyakan tata kelola sumber daya alam yang dinilai lebih berpihak pada kepentingan industri dibanding keberlangsungan hidup nelayan kecil.

Warga menilai dugaan penyelundupan pasir timah bukan hanya persoalan pelanggaran hukum semata.

Lebih dari itu, aktivitas tersebut dianggap menjadi bagian dari rantai panjang eksploitasi laut yang perlahan menghilangkan masa depan masyarakat pesisir.

“Yang hilang bukan cuma ikan. Ruang hidup kami juga ikut hilang,” ujar seorang nelayan lainnya.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan aktivitas penyelundupan pasir timah dari kawasan DU-1545 tersebut.

Namun masyarakat mendesak adanya investigasi menyeluruh terhadap pola distribusi timah di kawasan laut Tempilang.

Warga berharap negara tidak hanya hadir saat berbicara soal produksi dan keuntungan tambang, tetapi juga hadir ketika masyarakat pesisir mulai kehilangan penghidupan mereka. (belva)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel