“Pengelolaan keuangan keluarga menjadi penting agar kebutuhan hidup, termasuk gizi anak, bisa dipenuhi secara lebih terencana,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam pencegahan stunting.
“Perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak itu faktor penentu. Bukan hanya kasih sayang, tapi juga pengetahuan tentang gizi, kesehatan, dan pola asuh,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hidup sehat tidak selalu identik dengan biaya tinggi, selama prinsip kebersihan dan kecukupan gizi tetap terpenuhi.
“Hidup sehat dan bergizi tidak harus mahal, yang penting memenuhi standar kebersihan dan kebutuhan gizi,” ujarnya.
Lebih jauh, Sarbudiono menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga, hingga masyarakat.
“Kami terus mendorong semua pihak untuk ikut terlibat. Ini bukan hanya tugas pemerintah,” tegasnya.
Ia mengakui, target zero stunting bukan perkara mudah. Namun dengan sinergi kuat, perubahan perilaku masyarakat, serta kebijakan yang konsisten, target tersebut diyakini bukan hal yang mustahil.
“Harapannya, ke depan kita bisa mencapai target zero stunting, sehingga generasi yang lahir benar-benar berkualitas,” pungkasnya. (belva)

















