Jejak Batin Tikal di Desa Gudang, Dari Mitos Rambut hingga Perlawanan Belanda
SEKILASINDONEWS.COM – Di sudut Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Bangka Selatan, sejarah berdenyut bukan melalui arsip resmi, melainkan lewat cerita yang terus diwariskan.
Nama Batin Tikal hidup dalam ingatan kolektif warga sebagai sosok yang menolak tunduk pada kuasa kolonial Belanda dan rambut gimbalnya menjadi simbol perlawanan yang tak lekang oleh waktu.
Kisah tentang rambut Batin Tikal tidak sekadar legenda. Bagi masyarakat Pulau Timah, ia adalah penanda martabat, keberanian, sekaligus cara orang Bangka menjaga identitas di tengah gempuran monopoli tambang yang mencengkeram sejak abad ke-18.
Masuknya VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda mengubah wajah Bangka secara drastis. Timah menjadikan pulau ini medan perebutan kepentingan ekonomi global.
Sistem kerja paksa, penguasaan lahan, hingga penundukan elite lokal menjadi realitas yang membentuk luka panjang.
Di tengah lanskap itulah Batin Tikal dikenang sebagai pejabat adat yang memilih berdiri di sisi rakyat.
Ia disebut menolak sepenuhnya menjadi alat kolonial, bahkan rela melepaskan kedudukan demi membela kepentingan pribumi yang terdesak oleh politik tambang.
Simbol paling kuat yang melekat pada dirinya adalah rambut gimbal yang dibiarkan tumbuh. Warga meyakini rambut itu bukan sekadar penampilan, melainkan bahasa sunyi perlawanan.
“Rambut Batin Tikal adalah simbol kuasa budaya. Ia menandai sikap menolak tunduk, cara masyarakat menyimpan martabat di hadapan kolonialisme,” ujar Dr. Rita Zahara Rebuin, peneliti budaya Bangka, Selasa (10/2/2026).


















