Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
WhatsApp-Image-2025-12-25-at-11.08.00
HUT Basel ke-23
BeritaKab. Bangka Selatan

Jejak Batin Tikal di Desa Gudang, Dari Mitos Rambut hingga Perlawanan Belanda

×

Jejak Batin Tikal di Desa Gudang, Dari Mitos Rambut hingga Perlawanan Belanda

Sebarkan artikel ini
Jejak Batin Tikal di Desa Gudang, Dari Mitos Rambut hingga Perlawanan Belanda

Salah satu kisah paling masyhur berkaitan dengan perwira Belanda bernama Kapten D.W. Backing. Tutur lisan menyebut sang kapten berupaya memotong rambut Batin Tikal sebagai bentuk penaklukan simbolik.

Namun saat gunting menyentuh helai rambut, petir dikisahkan menyambar dan Backing tewas “mati berdiri”.

Bagi sejarawan, cerita itu mungkin tak tercatat dalam dokumen kolonial. Namun bagi warga, justru di sanalah kebenaran sosial bekerja: bahwa kekuasaan asing punya batas ketika berhadapan dengan keyakinan dan identitas lokal.

Mitos tersebut kini bergerak dari ruang tutur ke ruang akademik. Salsabilla Mutiara Maharani, mahasiswi Universitas Sriwijaya, mengkaji persepsi warga terhadap rambut Batin Tikal melalui penelitian etnografis. Ia menemukan pergeseran tafsir antargenerasi.

Generasi tua masih melihat rambut itu sebagai sesuatu yang sakral, sementara anak muda memaknainya sebagai simbol sejarah dan kebanggaan daerah. Meski berbeda sudut pandang, keduanya sepakat bahwa Batin Tikal adalah figur pembela rakyat Bangka.

Kajian lebih mendalam dilakukan Dr. Rita melalui disertasinya tentang kuasa simbolik rambut keramat Batin Tikal. Ia menilai kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan timah, tetapi juga berusaha mengendalikan makna. Rambut Batin Tikal menjadi cara halus masyarakat melawan dominasi wacana tersebut.

“Melalui simbol, masyarakat menyatakan bahwa mereka tidak sepenuhnya bisa ditundukkan. Itu bentuk resistensi kultural yang sangat kuat,” tulis Rita dalam penelitiannya.

Hari ini, di tengah geliat tambang modern yang kembali mengubah wajah Bangka, kisah Batin Tikal menemukan relevansinya. Ia mengingatkan bahwa perlawanan tak selalu lahir dari bedil, melainkan juga dari ingatan, cerita, dan simbol yang dirawat bersama.

Di Desa Gudang, rambut Batin Tikal tetap hidup, bukan sebagai benda gaib, tetapi sebagai penanda bahwa martabat orang Bangka pernah berdiri tegak melawan arus zaman. (*)

Laporan: Abok Amang

Akses Terus Biar Update
Hari Guru Nasional