Namun wajah TMMD tidak hanya berupa semen dan aspal. Hefi menuturkan, kegiatan nonfisik juga dirancang menyentuh kebutuhan paling dekat dengan kehidupan warga.
Mulai dari penyuluhan pencegahan stunting, peningkatan pelayanan kesehatan dan lingkungan, hingga pemasyarakatan teknologi tepat guna akan digelar dari rumah ke rumah dan balai desa.
“TMMD juga menggelorakan kembali budaya gotong royong, penyuluhan kamtibmas, posyandu, serta Posbindu Penyakit Tidak Menular. Semua ini untuk memperkuat kualitas hidup warga,” jelasnya.
Menurutnya, kekuatan TMMD justru terletak pada pertemuan dua hal: pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia. Jalan boleh terbentang, tetapi kesadaran masyarakatlah yang akan membuatnya bermakna.
“Kegiatan ini tidak hanya membangun jalan atau bangunan, tetapi juga membangun manusia dan kebersamaan sosial,” katanya.
Lebih jauh, Hefi menegaskan bahwa keharmonisan TNI dan rakyat adalah fondasi penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari desa-desa seperti Penutuk, nilai persatuan itu terus dirawat.
“Nilai kemanunggalan itu harus terus hidup. Dari desa inilah kekuatan bangsa sesungguhnya tumbuh,” tegas dia.
Ia berharap, kebersamaan yang terjalin selama TMMD tidak berhenti ketika program selesai. Desa Penutuk, dengan segala keterbatasan geografisnya, membutuhkan semangat gotong royong yang panjang.
“Jangan sampai keharmonisan ini pudar. Kebersamaan ini harus terus dipupuk demi kemajuan desa dan Bangka Selatan,” pungkasnya.
Dimulainya TMMD 2026 menjadi babak baru bagi Desa Penutuk. Desa yang dipeluk laut itu kini perlahan menatap masa depan dengan langkah lebih ringan.
Program ini diharapkan menjadi jembatan, bukan hanya membuka akses jalan, tetapi juga membuka harapan tentang hidup yang lebih baik bagi masyarakat kepulauan. (*)

















